Perhatikan Delapan Hal ini Supaya Puasanya tidak Batal

Anak BerPuasa Ilustasi Istimewa
Anak BerPuasa Ilustasi Istimewa

Gmnucyberteam.com – Dalam bulan Ramadhan, Ummat Muslim diwajibkan untuk melaksanakan puasa sebagaimana yang diterangkan di dalam Surah Al-Baqarah 183.

Bahwasanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 183)

Selain wajib, berpuasa juga dianjurkan untuk memperhatikan hal-hal yang dapat membatalkan puasa supaya puasa kita menjadi berkah, berpahala dan diterima oleh-Nya.

8 hal yang dapat membatakan puasa dibawah ini harus kamu ketahui, berikut delapan hal tersebut yang Gmnucyberteam.com lansir melalui NU Online di dalam kitab kitab Fath al-Qarib.

Pertama (1), sampainya sesuatu ke dalam lubang tubuh dengan disengaja. Maksudnya, puasa yang dijalankan seseorang akan batal ketika adanya benda (‘ain) yang masuk dalam salah satu lubang yang berpangkal pada organ bagian dalam yang dalam istilah fiqih biasa disebut dengan jauf. Seperti mulut, telinga, hidung. Benda tersebut masuk ke dalam jauf dengan kesengajaan dari diri seseorang.

jauf (lubang) ini memiliki batas awal, yang bilamana, ketika benda melewati batas-batas tersebut maka puasa menjadi batal, akan tetapi selama belum melewati maka puasanya tetap sah. Didalam hidung, batas awalnya ialah di bagian yang disebut dengan pangkal insang (muntaha khaysum) yang sejajar dengan mata; dalam telinga, yaitu bagian dalam yang sekiranya tidak telihat oleh mata; sedangkan didalam mulut, batas awalnya ialah tenggorokan (hulqum).

Puasa menjadi batal ketika terdapat benda, baik itu makanan, minuman, atau benda lain yang sampai pada tenggorokan, misalnya. Namun, tidak akan menjadi batal apabila benda masih berada di dalam mulut dan tidak ada bagian dari benda itu yang sampai di tenggorokan sedikit pun .

Berbeda halnya ketika benda yang masuk dalam jauf seseorang yang sedang berpuasa dilakukan dalam keadaan lupa, atau sengaja tapi ia belum mengerti bahwa masuknya benda pada jauf adalah hal yang dapat membatalkan puasa. Dalam keadaan demikian, puasa yang dilakukan seseorang tetap dihukumi sah selama benda yang masuk dalam jauf tidak dalam volume yang banyak, seperti lupa memakan makanan yang sangat banyak pada saat puasa. Maka ketika hal tersebut terjadi puasa dihukumi batal. (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 259)

Kedua (2), mengobati dengan cara memasukkan benda (obat atau benda lain) pada salah satu dari dua jalan (qubul dan dubur). Misalnya pengobatan bagi orang yang sedang mengalami ambeien dan juga bagi orang yang sakit dengan memasang kateter urin, maka dua hal tersebut dapat membatalkan puasa.

Ketiga (3), karena muntah yang di sengaja. Apabila seseorang muntah tapi tidak disengaja atau secara tiba-tiba muntah (ghalabah) maka hukum puasanya tetap sah selama tiada sedikit pun dari muntahannya itu yang tertelan kembali. Namun jika muntahannya tersebut tertelan dengan sengaja, maka puasanya dihukumi batal.

Keempat (4), melakukan jima’ atau berhubungan seksual dengan lawan jenis dengan sengaja. dalam konteks ini terdapat ketentuan khusus: puasa seseorang tidak hanya batal tapi juga juga akan dikenai denda (kafarat) atas perbuatannya itu. Dendanya ini adalah dengan berpuasa selama dua(2) bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka wajib baginya memberikan makanan pokok senilai satu mud (0,6 kilogram beras atau ¾ liter beras) kepada 60 fakir miskin. Hal ini tidak lain bertujuan sebagai ganti atas dosa yang ia lakukan berupa berhubungan seksual pada saat puasa.

Kelima (5), keluarnya air mani (sperma) yang disebabkan akibat bersentuhan kulit. Jika misalnya, mani keluar karena sebab onani (memainkan kemaluan) atau sebab bersentuhan dengan lawan jenis tanpa adanya hubungan seksual. Berbeda halnya ketika mani keluar karena mimpi basah (ihtilam) maka dalam keadaan demikian puasa tetap dihukumi sah.

Keenam (6), mengalami haid atau nifas pada saat puasa. Selain dihukumi batal puasanya, orang yang mengalami haid atau nifas berkewajiban untuk mengqadha puasanya. Dalam hal ini puasa memiliki konsekuensi yang berbeda dengan shalat dalam hal berkewajiban untuk mengqadha. Sebab dalam shalat orang yang haid atau nifas tidak diwajibkan untuk mengqadha shalat yang ia tinggalkan pada masa haid atau nifas.

Ketujuh (7), gila (junun) pada saat menjalankan ibadah puasa. Ketika hal ini terjadi pada seseorang di pertengahan melaksanakan puasanya, maka puasa yang ia jalankan dihukumi batal.

Kedelapan (8), murtad pada saat puasa. Murtad adalah keluarnya seseorang dari agama Islam. Misalnya orang yang sedang puasa tiba-tiba mengingkari keesaan Allah subhanahu wata’ala, atau mengingkari hukum syariat yang sudah menjadi konsensus ulama (mujma’ alaih). Di samping batal puasanya, seorang yang telah murtad itu berkewajiban untuk segera mengucapkan syahadat serta meng-qadha puasanya.

Sekian penjelasan dari Delapan (8) hal diatas tentang perkara yang dapat menimbulkan batal puasa, Semoga dengan mengetahui perkara tersebut, ibadah puasa di bulan Ramadhan diberi kelancaran dan kesempurnaan serta menjadi ibadah yang diterima oleh Allah subhanahu wata’ala. Amin yaa Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam.

Penulis adalah Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember Jawa Timur(*)


Penulis : redaksi
Editor : hasan
Avatar
About redaksi 45 Articles
Tim Penulis