Penyempitan dan Pendangkalan Islam Menurut Dosen Unusia

Gmnucyberteam.com – Islam adalah agama yang luas dan mulia. Keluasan ajaran Islam tidak saja karena meliputi berbagai aspek kehidupan seperti sosial, politik, ekonomi, hukum dan sebagainya.

Namun juga pada kandungan nilai islam yang universal sehingga tidak saja berlaku bagi ummat Islam tetapi juga oleh seluruh alam, termasuk umat non-muslim.

Keluasan universalitas nilai ajaran Islam ini tercermin dalam kalimat Rahman dan Rahim serta rahmatan lil’alamin yang bisa dirasakan oleh siapa saja.

Menurut Muh. Arkoun, keluasan Islam itu terjadi karena dia merupanan cerminan kalamullah yang luas tak terbatas, yang menampung dan meliputi segalanya. Agar kalamullah yang luas tak terbatas itu bisa dijangkau oleh akal dan pikiran manusia yang terbatas maka disimplifikasi dalam agama yang disampaikan melalui Nabi.

Setelah Nabi wafat para ulama berupaya mengurai ajaran Islam yang luas itu menjadi bagian-bagian yang lebih spesifik agar lebih mudah dipahami dan dijalankan oleh ummat Islam.

Proses ini berjalan secara massif pada abad ke 8 hingga 13 M yang dilakukan oleh para ulama generasi tabi’in. Pada fase ini lahir berbagai cabang ilmu seperti tafsir, hadits, fiqih, tauhid/kalam dan tasawwuf

Pada periode ini juga lahir beberapa ilmu alam (science) dari pemikiran keagamaan para ulama seperti ilmu kedokteran dengan tokohnya al-Razi, Ibn Sina, Ibn Rusyd, juga al-Kawarizmi yang ahli matematika, ibn Hayyan ahli kimia, al-Fazari ahli astronomi dan sebagainya.

Meski terjadi pembagian ajaran Islam dalam berbagai bidang keilmuan namun bukan berarti terjadi penyempitan dan pendangkalan ajaran Islam. Sebaliknya, hal ini justru menunjukkan keluasan dan kemuliaan ajaran Islam.

Ada dua hal yang menyebabkan hal ini terjadi; pertamakarena masing bidang keilmuan tidak mengklaim dirinya sebagai pemegang kebenaran Islam sehingga merasa kelompoknya yang paling sah mewakili Islam. Kedua, masing ilmu dikembangkan sebagai upaya menggali dan mengbangkan ajaran Islam, bukan karena ambisi dan kesombongan ego pribadi maupun kelompok. Dengan spirit ini masing-masing bidang ilmu bisa bersinergi dan menjadi cermin keluasan dan kemuliaan Islam.

Dalam perkembangan selanjutnya pemikiran scienceyang merupakan cerminan dari ajaran Islam yang luas dan mulia ini dikembangkan oleh Barat. Meski dunia science berkembang pesat, namun menjadi jauh dari spirit Islam (agama) karena sekularisasi.

Oleh dunia Barat Islam (agama) yang dulu menjadi sumber pengetahuan dianggap menjadi beban yang menghambat pemikiran. Oleh karenanya agama harus disingkirkan dari science agar bisa berkembang dengan pesat. Dari sinilah proses pendangkalan dan penyempitan ajaran Islam terjadi.

Di tengah perlembangan science yang makin maju di dunia Barat, umat Islam masih sibuk berdebat soal teologis. Dan perdebatannya semakin keras dan kasar hingga membuat masing-masing kelompok terpenjara dalam frame pemikiran masing-masing.

Menurut Hassan Hanafi, perdebatan teologis seperti ini terlalu elit dan abstrak karena tidak memiliki relevansi dengan realitas keduniaan yang secara riil dihadapi masyarakat.

Yang lebih mengerikan perebatan sekarang justru terjadi pada level simbolik formal dengan mengabaikan hal-hal yang substansial. Tudingan kafir, sesat, thoghut dan sejenisnya disematkan pada kelompok lain hanya karena perbedaan pemikiran politik dan praktik ritual keagamaan nonformal (ghairu mahdlah)

Padahal beberapa abad sebelumnya Imam syafi’i sudah mengingatkan bahwa dalam soal pemikiran keagamaan beliau menyatakan; “pendapatku benar, tapi bisa jadi salah. Dan pendapat selainku itu salah, tapi bisa jadi benar.”

Pernyayaan imam Syafi’i ini merupakan bentuk kehati-hatian dalam membuat klaim kebenaran atas nama agama. Inilah yang menyebabkan para ulama dahulu tidak pernah mengatasnamakan Islam atau umat Islam saat menghadapi persoalan hukum negara.

Issu khalifah Islam, bentuk negara sebagai sarana penerapan syariat Islam sebenarnya adalah soal pemikiran keislaman. Oleh karenanya akan menjadi sikap yang mempersempit dan mendangkalkan ajaran Islam jika pemkiran tersebut dianggap sebagai Islam itu sendiri, sehingga yang menolak dianggap menolak Islam.

Yang lebih parah jika Islam hanya diindetikkan dengan satu kelompok. Atau Islam dimonopoli oleh satu kelompok saja. Misalnya HTI. Hanya karena mengusung issu khilafah seolah-olah dialah Islam, sehingga ketika menolak keberadaan HTI dianggap menolak Islam. Membubarkan HTI sama dengan membubarkan Islam.

Pemikiran seperti ini tidak hanya mempersempit dan mendangkalkan Islam tapi juga melecehkan Islam. Apakah mungkin Islam yang demikian luas dan mulia hanya diwadahi dan dicerminkan dalam suatu wadah dan simbol yang kecil seperti HTI? Sehingga pembubaran terhadapnya diklaim sebagai pembubaran Islam? Dan penolakan terhadapnya dianggap sebagai penolakan terhadap Islam?.[ana].

Oleh Al-Zastrouw Ngatawi

Penulis adalah Dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.

Anna Altofu Nisa

Next Post

Empat Hal yang Disunahkan dalam I'tikaf

Sab Mei 25 , 2019
Gmnucyberteam.com – I’tikaf merupakan salah satu ibadah yang secara khusus hanya bisa dilakukan di masjid. I’tikaf sebenarnya bukan syariat yang ditetapkan pada zaman Nabi Muhammad saja, tapi juga pada era nabi-nabi terdahulu. Karena itu, i’tikaf bisa disebut sebagai syarai’ al-qadimah (syariat terdahulu). Hal ini bisa kita amati dalam firman Allah: […]
gmnu CT Logo brandsgmnu CT Logo brands

Follow Me