Khusyu Menjalankan Ibadah Lebih baik daripada Mengikuti Aksi 22 Mei

0
282
Ketua Umum PBNU
Ketua Umum PBNU

Gmnucyberteam.com – Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj menegaskan agar Nahdliyin (Warga NU) jangan terlibat aksi 22 Mei dan mengingatkan untuk tetap khusyuk menjalankan ibadah puasa.

Hal ini disampaikan Kiai Said dalam menyikapi situasi dan kondisi kebangsaan terkini, di mana dikabarkan akan ada sejumlah masyarakat yang akan melakukan aksi sebagai reaksi pengumuman hasil Pemilu pada 22 Mei 2019.

“Tetaplah khusyuk menjalankan ibadah dan bekerja untuk kemaslahatan keluarga, Saya meminta warga Nahdlatul Ulama untuk tidak ikut-ikutan rencana aksi 22 Mei 2019,” kata Kiai Said, Senin (20/5).

Kiai Said Aqil Siradj menyebutkan bahwasanya bulan Ramadhan atau bulan Puasa adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an (Syahrul Qur’an), bulan untuk mendekatkan diri kepada Allah (syahrut Taqarrub), bulan untuk meningkatkan kaulitas beribadah (Syahrul Ibadah).

Menjalankan ibadah dengan khusyuk dan bekerja untuk kemaslahatan keluarga, kata Kiai Said, merupakan bentuk jihad yang sebenar-benarnya.

“Ramadhan adalah bulan yang seyogianya diisi dengan serangkaian amal ibadah yang positif dan luhur sesuai dengan anjuran Allah Swt. Marilah kita bersama-sama menyemarakkan bulan Ramadan dengan sholat tarawih, tadarus, mengaji, memperkuat silaturahim dan amal ibadah yang bermanfaat lainnya,” Ucap Kiai Said.

Kiai Said juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama meninggalkan perbuatan-perbuatan yang membuat puasa menjadi tidak bernilai.

“Akan sia-sialah puasanya apabila menjalankan ibadah puasa kalau tidak disertai dengan usaha menjaga lisan dan jarinya agar tidak menyebarkan berita bohong, fitnah dan adu domba,” Kata Kiai Said.

Lebih lanjut, Kiai Said menerangkan bahwasanya sebagai bangsa yang berbudaya, maka kita wajib untuk bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan. Persatuan dan kesatuan merupakan dua hal yang sangat penting untuk dipertahankan sebagai bagian dari menjaga keselamatan bangsa.

Beliau menghargai sikap demokrasi masyarakat, namun demokrasi bukanlah berarti bebas sebebas-bebasnya. Ada aturannya, prosedurnya, dan tata caranya yang disepakati dan dijunjung secara bersama-sama.

“Jangan sampai ada pihak yang salah mengartikan demokrasi dan memaknainya sebagai kebebasan untuk berkehandak,” ujarnya.

Soal perbedaan pendapat, Kiai Said meminta agar masyarakat menyikapinya dengan dewasa dan bijaksana.

“Apabila terdapat kelompok orang yang tidak puas dengan Pemilu 2019, silakan bisa dilakukan dengan menempuh prosedur konstitusional ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) atau ke Mahkamah Konstitusi (MK). Ucap kiai Said.

“Karena, itulah cara yang mulia, elegan, dan juga beradab,” imbuhnya.[Darmuji]