Dear Muslim, Begini Hukum Onani saat Puasa

0
308
hukum onani
hukum onani

Gmnucyberteam.com – Menjalankan Puasa Ramadhan sebagai ummat muslim adalah kewajiban yang harus dilaksanakan. Hal ini seperti di dalam Alqur’an pada Surah Al Baqarah ayat ke 183.

Bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah [2] : 183)

Puasa adalah menahan diri dari makan dan minum serta menahan diri dari segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa termasuk syahwat.

Bagaimana apabila memainkan zakar (red; Onani) apalagi sampai keluar cairan, apakah boleh dilanjutkan atau puasanya menjadi batal?

Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, bahwasanya Allah Ta’ala berfirman jika onani termasuk penyebab dari batalnya puasa.

يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِى

“Orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwat, makan dan minumnya.” (HR. Bukhari no. 7492).

Sebab perbuatan seperti onani adalah bagian dari syahwat. Bahkan Ibnu Qudamah dalam Al Mughni berkata,

وَلَوْ اسْتَمْنَى بِيَدِهِ فَقَدْ فَعَلَ مُحَرَّمًا ، وَلَا يَفْسُدُ صَوْمُهُ بِهِ إلَّا أَنْ يُنْزِلَ ، فَإِنْ أَنْزَلَ فَسَدَ صَوْمُهُ ؛ لِأَنَّهُ فِي مَعْنَى الْقُبْلَةِ فِي إثَارَةِ الشَّهْوَةِ

“Jika seseorang mengeluarkan mani secara sengaja dengan tangannya, maka ia telah melakukan suatu yang haram. Puasanya tidaklah batal kecuali jika mani itu keluar. Jika mani keluar, maka batallah puasanya. Karena perbuatan ini termasuk dalam makna qublah yang timbul dari syahwat.”

Begitu juga dengan Al Imam Nawawi dalam Al Majmu’ Al Fatawa (6: 322), “Jika seseorang mencium atau melakukan reaksi selain pada kemaluan istri dengan kemaluannya atau menyentuh istrinya dengan tangannya atau dengan cara semisal itu lalu keluar mani, maka puasanya batal. Jika tidak, maka tidak batal.”

Demikian pendapat ulama dari ke-empat madzhab, yaitu Imam Malik, Syafi’i, Abu Hanifah, dan Ahmad.[red]