Alhikam 30 – Syaikh Ibnu Athaillah Sekandary

Ilustrasi Sufi
Ilustrasi Sufi

Syaikh Ibn Atha’illah Sekandary Q.S.

طَلَبُكَ مِنْهُ اِتِّهَامٌ لَهُ, وَطَلَبُكَ لَهُ غَيْبَةٌ مِنْكَ عَنْهُ, وَطَلَبُكَ لِغَيْرِهِ لِقِلَّةِ حَيَائِكَ مِنْهُ ,وَطَلَبُكَ مِنْ غَيْرِهِ لِوُجُوْدِبُعْدِكَ عَنْهُ.

“Permohonanmu kepada/dari Allah, mengandung pengertian menuduh Allah, kuatir tidak memberi kepadamu. Dan permohonanmu kepada Allah agar mendekatkan dirimu kepada-Nya, berarti engkau masih merasa jauh dari-Nya. Dan permohonanmu kepada Allah untuk mencapai kedudukan dunia akhirat, membuktikan tiada malumu kepada-Nya. Dan permohonanmu kepada sesuatu selain Allah menunjukkan jauhmu dari-Nya.”

Ustadz Salim Bahreisy ra mensyarah:
Dan mintamu kepada Allah untuk mencapai kedudukan dunia akherat, membuktikan tiada malumu kepada-Nya, dan permintaanmu kepada sesuatu selain dari Allah menunjukkan jauhmu dari pada-Nya.
Permintaan hamba kepada Allah terbagi dalam empat macam, dan kemudian kesemuanya itu tidak tepat bila diteliti lebih jauh dan mendalam.

Permintaan kepada Allah mempunyai arti ‘menuduh’, sebab sekiranya kita yakin bahwa Allah akan memberi tanpa kita minta, tentu kita tidak akan minta. Karena kuatir tidak Allah beri apa-apa yang kita butuhkan, atau menyangka Allah telah melupakan kita, dan yang lebih jahat lagi bila kita merasa berhak, tetapi oleh Allah belum juga diberi.
Dan permintaan kita untuk mendekat(taqarrub), menunjukkan bahwa kita merasa kehilangan terhadap-Nya.
Sedangkan permintaan kita tentang sesuatu dari kepentingan-kepentingan duniawi membuktikan tiada malunya kita kepada-Nya, sebab sekiranya kita malu, tentu tidak ada keperluan kita selain mengabdi dan taqarrub kepada-Nya.
Sedang jika kita meminta sesuatu dari selain Allah, membuktikan jauhnya kita dari-Nya, sebab sekiranya kita tahu bahwa Allah itu dekat dengan kita, tentu kita tidak meminta kepada selain Dia. Kecuali permintaan yang semata-mata untuk menurut perintah-Nya. Hanya inilah yang tepat benar.

Syaikh Fadhlala Haeri ra memberikan syarahnya:
Orang yang selalu mengingat Allah dan khusyuk dalam jalan-Nya berada di jalan yang sampai kepada-Nya. Adab yang baik adalah berupa hati yang ridho, puas, yang tercerahkan karena kehadiran-Nya.

Sedangkan adab yang buruk adalah dengan adanya daftar permintaan/tuntutan atas-Nya, baik yang spritual maupun yang material duniawi. Kita semua perlu merasakan rahmat, kedekatan, dan cinta-Nya.
Allah memperbolehkan kita berada dalam kebutuhan agar dapat lebih dekat kepada-Nya. Dengan bersandar dan meyakini hanya kepada Allah semata, dan pada ketetapan-ketetapan-Nya yang sempurna.

Nah, sahabat, akan jauh lebih baik dan santun bila sebelum berdoa meminta sesuatu kepada Allah, kita telisik dahulu sejauh mana kita mempunyai ilmu tentang Allah dan segala Shifat, Asma’, Af’al-Nya serta juga ketidak-berdayaan diri kita. Karena itu bisa mempengaruhi adab doa kita.
Wallahu a’lam bishshawwab.


Penulis : redaksi
Editor : hasan
Avatar
About redaksi 45 Articles
Tim Penulis